Pengurusan Izin Edar Bahan Pangan, Alat Kesehatan, dan Obat Herbal

 

 

 

Izin Edar Alat KesehatanIndonesia ialah negara hukum. Tentunya, seluruh hal dan kegiatan yang dilaksanakan oleh penduduk negaranya mesti cocok dan menurut hukum serta ketentuan yang berlaku. Mendirikan bangunan, melakukan pembelian kendaraan, menegakkan usaha dan perusahaan, seluruh ada aturannya. Tak terkecuali dengan pengedaran dan jual beli bahan pangan pun makanan.

Lembaga berwenang yang menata persoalan perizinan edar bahan pangan dan makanan ialah Badan Pengawas Obat dan Makakanan (BPOM). Beberapa orang berpikir bahwa lembaga ini sama dengan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), sehingga andai telah mendapat izin edar dari Kemenkes, tidak butuh lagi mengikutsertakan produk pangan dan makanan ke BPOM. Padahal, kedua lembaga ini jelas bertolak belakang dalam menerbitkan perizinan.

Mengurus perizinan edar, baik ke BPOM maupun ke Dinas Kesehatan memang mesti melewati sederetan proses dan prosedur. Tak heran andai waktu yang diperlukan untuk menjalani seluruh tahapannya juga tidak sebentar. Oleh sebab itulah, tidak sedikit pihak produsen atau pengedar bahan pangan yang memakai jasa konsultan hukum untuk dapat segera menemukan izin dari dua lembaga hukum tersebut, di antara konsultan hukum yang berpengalaman dalam menangani permasalahan pengurusan izin edar bahan pangan dan makanan ialah BP Lawyers

Peraturan Izin Edar Bahan Pangan dan Minuman di Indonesia

Di Indonesia, aturan tentang bahan pangan, makanan, dan minuman tertulis dalam Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 mengenai Pengaturan Pengamanan Makanan dan Minuman. Dikeluarkan dan disahkannya ketentuan ini merupakan format upaya pemerintah untuk memastikan kualitas dari masing-masing makanan dan minuman yang beredar atau diperjual belikan di Tanah Air.
Peraturan tentang izin edar ini juga berlaku untuk seluruh makanan atau minuman yang berisi bahan tertentu, tak terkecuali bahan-bahan nonhalal dan alkohol. Terlebih, produsen yang memakai bahan-bahan tesebut (nonhalal dan alkohol) mesti mencantumkan penjelasan tambahan berupa kandungan bahan pangan dan kadar alkohol dalam kemasan produk.
Ada pun untuk semua pihak yang tidak mengisi aturan atau melanggar ketentuan tersebut, bakal dikenakan sanksi tegas berupa sanksi adminitratif dalam bentuk:
• Peringatan tertulis maksimal sejumlah tiga kali.
• Penghentian pekerjaan produksi dan penyaluran dalam jangka masa-masa tertentu.
• Pembatalan Surat Persetujuan, dan
• Menarik produk dari peredaran untuk dilaksanakan pemusnahan.
Di samping sanksi administratif, pelanggar pun dapat dibebankan sanksi pidana laksana yang tertulis dalam ketentuan perundang-undangan bersangkutan
Izin Edar Alat Kesehatan
alat kesehatan pict by: billmullins.files.wordpress.com
Tak sekedar pada bahan pangan, makanan, dan minuman saja, perizinan edar pun berlaku guna alat-alat kesehatan. Hal ini sebagaimana tertulis dalam di antara pasal yang ada pada Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009, yang melafalkan bahwa “Semua sediaan farmasi dan perangkat kesehatan melulu dapat diedarkan sesudah mendapatkan izin edar.”
Selanjutnya, perizinan edar alat-alat farmasi dan kesehatan pun diperjelas dalam Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 1990 Tahun 2010 mengenai Izin Edar Alat Kesehatan. Dalam aturan ini, ditetapkan bahwa segala format peredaran perangkat kesehatan dan perbekalan lokasi tinggal tangga perlu dilaksanakan penilaian sebelum diedarkan, guna menyerahkan pengamanan dari pemakaian yang tidak tepat.

 

 

Peraturan Izin Edar BPOM
Sesuai dengan aturan pemerintah dan perundang-undangan yang berlaku berhubungan izin edar bahan pangan, makanan, minuman, produk kosmetik, obat sampai alat kesehatan, ditetapkan bahwa seluruh produk pangan, dan kesehatan serta kosmetik mesti mempunyai surat izin edar yang sah dari lembaga yang berwenang, dalam urusan ini BPOM dan Dinas Kesehatan, sebelum melakukan kegiatan jual beli terhadap produk tersebut.
Aturan ini berlaku tak sekedar pada lokal saja, tetapi pun semua bahan makanan, kosmetik, dan obat impor. Di samping itu, izin edar pun berlaku pada produk yang berisi bahan eksklusif dan alkohol. Hal ini dilafalkan dalam Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (PKBPOM) Nomor HK. 00.05.1.23.3516 mengenai Izin Edar Produk Obat, Obat Tradisional, Kosmetik, Suplemen Makanan, dan Makanan yang Bersumber dari Bahan Tertentu atau Mengandung Alkohol.

 

 

Registrasi Alat Kesehatan
Registrasi perangkat kesehatan dilaksanakan di Departemen Kesehatan cocok dengan distrik atau mukim dari pemohon. Saat akan mengerjakan pengurusan izin edar, pihak pemohon mestilah sebagai produsen atau distributor alat kesehatan yang sebelumnya sudah mengantongi sertifikat buatan alat-alat tersebut. Ada juga kriteria perlengkapan kesehatan yang bakal mendapatkan izin edar ialah sebagai berikut.
• Semua perlengkapan kesehatan mesti mempunyai nilai guna dan ketenteraman yang telah diperlihatkan melalui serangkaian uji klinis sebelum pengusulan izin edar dilakukan.
• Semua perangkat kesehatan yang akan dikemukakan izin edarnya mempunyai kualitas yang terjamin. Penilaian kualitas ini didasarkan pada prosedur penciptaan dan pemakaian bahan baku yang telah cocok dengan aturan yang berlaku.
Adapun mekanisme atau formalitas dalam pengurusan perizinan edar perangkat kesehatan ialah sebagai berikut:
• Setelah meyakinkan seluruh alat kesehatan telah mempunyai kriteria yang ditentukan, pemohon kemudian mengisi eksemplar isian untuk lantas ditujukan untuk Dinas Kesehatan beserta dokumen yang dibutuhkan. Pendaftaran dilaksanakan secara online di regalkes.depkes.go.id.
• Pihak bersangkutan lantas melakukan serangkaian evaluasi terhadap alat-alat kesehatan itu untuk menyimpulkan apakah surat izin edar dapat disahkan atau tidak.
• Jika sudah disetujui, pemohon mesti memberikan dokumen pribumi dan duplikat di kantor Depkes setempat. Berkas akan dicek kelengkapannya oleh unsur bersangkutan.
• Pihak produsen yang sudah mempunyai izin edar mesti menyerahkan laporan berupa efek samping pemakaian alat kesehatan masing-masing tahun sekali.
• Alat kesehatan yang sudah mendapatkan izin edar mesti mempunyai informasi yang menyeluruh pada kemasannya untuk meminimalisir terjadinya kekeliruan pemakaian.

Terkait dengan proses perpanjangan surat izin edar, berikut ialah informasi yang urgen untuk diketahui:
• Surat izin edar yang telah diabsahkan mempunyai masa berlaku sampai lima tahun terhitung mulai tanggal dikeluarkannya surat itu dan bisa diperpanjang sekitar semua masih mengisi segala kriteria dan persyaratan yang berlaku.
• Batas waktu mengerjakan perpanjangan ialah selambatnya tiga bulan sebelum jatuh tempo.
• Jika telah melalui batas tersebut, pemohon mesti mengemukakan pembuatan surat izin edar baru.

 

Izin Edar Obat Tradisional di Indonesia
Aturan tentang izin edar obat tradisional di Indonesia tertuang dalam Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 006 Tahun 2012 mengenai Industri dan Usaha Obat Tradisional. Peraturan ini diciptakan untuk menata industri dan usaha yang bergerak di bidang obat tradisional supaya lebih menyimak khasiat, keamanan, dan kualitas obat tradisional yang diproduksi.
Menindaklanjuti ketentuan tersebut, maka empunya usaha yang memperjual belikan obat tradisional mesti mendaftarkan produknya supaya mempunyai izin edar yang sah. Ada juga kriteria dan persyaratan obat tradisional guna dikeluarkan surat izin edarnya yaitu:
• Obat tradisional diciptakan dari bahan-bahan alami yang berkhasiat dan melewati proses yang cocok dengan Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB).
• Memiliki informasi yang menyeluruh dan pribumi yang memastikan kemanan pemakaian obat tradisional serta cocok dengan hasil uji penilaian yang telah dilaksanakan oleh pihak bersangkutan.
Khusus guna obat tradisional, perizinan edar bisa ditangguhkan, apabila:
• Obat herbal dan tradisional serta fitofarmaka bukan dipakai untuk kegiatan jual beli, melainkan melulu untuk kegiatan penelitian.
• Obat tradisional yang berasal dari luar negeri (impor) dan dipakai untuk kebutuhan pribadi dalam jumlah yang terbatas.
• Obat tradisional yang berasal dari luar negeri (impor) sudah beredar secara sah dan tercatat di negara asal yang dipakai untuk kebutuhan pameran dengan jumlah yang terbatas.
• Obat tradisional tanpa brand atau diubah secara pribadi melewati proses manual dan diperjual belikan dalam format jamu gendong.

 

Peraturan Pemerintah (PP) Izin Edar Obat, Bahan Pangan, dan Makanan
Aturan mengenai izin edar obat, bahan pangan, dan makanan tertulis dalam sekian banyak perundangan yang berlaku. Aturan tentang izin edar yang bersumber dari Peraturan Pemerintah merupakan:
• Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 72 Tahun 1998 mengenai Pengamanan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan.
• Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 69 Tahun 1999 mengenai Label dan Iklan Pangan.
• Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2004 mengenai Keamanan, Mutu, dan Gizi Pangan.
Sementara itu, aturan berhubungan yang bersumber dari Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (PKBPOM) yaitu:
• Peraturan Kepala BPOM Nomor 12 Tahun 2016 mengenai Pendaftaran Pangan Olahan.
• Peraturan Kepala BPOM Nomor 27 Tahun 2013 mengenai Pengawasan Pemasukan Obat dan Makanan ke dalam Wilayah Indonesia.
• Peraturan Kepala BPOM Nomor HK.00.05.1.23.3516 mengenai Izin Edar Produk Obat, Obat Tradisional, Kosmetik, Suplemen Makanan, dan Makanan yang Bersumber, Mengandung, dari Bahan Tertentu dan atau Mengandung Alkohol.
• Peraturan Kepala BPOM Nomor HK.03.1.23.04.12.2205 Tahun 2012 mengenai Pedoman PemberianSertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga.
Ada juga aturan perundang-undangan yang menyokong Peraturan Pemerintah dan Peraturan Kepala BPOM berhubungan izin edar yaitu:
• Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 mengenai Perlindungan Konsumen.
• Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 mengenai Kesehatan.
• Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 mengenai Pengaturan Keamanan Makanan dan Minuman.
Semua kegiatan yang berikaitan dengan pengabsahan izin edar guna segala produk dan bahan pangan, minuman, obat tradisional, kosmetik sampai alat kesehatan hendaknya mengacu pada seluruh hukum perundangan tertulis yang berlaku. Hal ini demi meminimalisir terjadinya kesalah pahaman dan penyelewengan dari sekian banyak pihak.

 

Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Terkait Izin Edar

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menjadi satu-satunya lembaga tertinggi yang menata segala kepandaian tentang bobot dan garansi pangan, kosmetik, dan obat tradisional yang beredar di Indonesia. Oleh sebab itu, penerbitan surat izin edar guna segala produk pangan, kosmetik, dan obat-obatan pun harus melewati lembaga ini. Meskipun demikian, sejumlah produk pangan dan obat pun wajib menemukan surat izin edar dari Departemen Kesehatan.
Demi menemukan surat izin edar dari BPOM, masing-masing produsen mesti mempunyai kemasan beserta labelnya yang cocok dengan standar baku yang telah diputuskan oleh pemerintah. Kemasan masing-masing produk mesti mempunyai informasi menyeluruh seputar nama produk, berat bersih, komposisi, nama dan alamat produsen atau distributor, serta tanggal buatan dan batas pemakaian atau tangga kedaluwarsa.
Dari informasi yang tercantum pada kemasan ini, petugas BPOM bakal melakukan penilaian secara lengkap terhadap kemurnian detail yang dicantumkan. Evaluasi atau pengujian ini perlu dilaksanakan sebelum BPOM resmi menerbitkan surat izin edar guna produk tersebut. Evaluasi ini pun menjadi kriteria utama produsen menemukan izin iklan produk.
Apabila ketika proses penilaian pihak BPOM mengejar adanya komposisi atau bahan yang riskan dan tidak cocok dengan standar yang berlaku, maka surat izin edar tidak dapat dikeluarkan. Bahkan, bukan tidak barangkali pihak BPOM bakal memberlakukan penarikan produk, pembatalan izin produksi, sampai pemberian sanksi tegas berupa sanksi adminitrasi dan pidana.
Ada juga produsen yang sudah mengantongi surat izin edar dari BPOM bukan berarti bebas dalam menjual produknya. BPOM dan Dinas Kesehatan bakal meminta produsen memberikan laporan penilaian keamanan dan garansi mutu produk secara rutin setiap setahun sekali. Di samping itu, BPOM dan Dinas Kesehatan pun akan mengerjakan audit atau tinjauan langsung ke tempat usaha untuk mengerjakan pengecekan secara mandiri.

 

Benarkah BPOM Perketat Izin Edar?

Beberapa masa-masa lalu, marak beredar produk makanan instan dari Negeri Gingseng di Indonesia yang informasinya mempunyai kandungan nonhalal di dalamnya. Produk ini disinyalir beredar bebas di Indonesia tanpa mengantongi surat izin edar dari BPOM.
Menindaklanjuti kabar tersebut, BPOM akhirnya menyimpulkan untuk memperketat izin edar produk bahan pangan, khususnya yang berasal dari luar negeri. Lembaga yang tadinya lebih mengutaman proses legalisasi izin edar, sekarang memutuskan guna lebih berfokus pada perlindungan dan keselamatan konsumen. Dampak ketatnya izin edar ini pun pun akan dialami oleh semua importir atau distributor.
Di samping pada bahan makanan, BPOM pun memperketat pnegawasan dan pengabsahan izin edar dalam urusan promosi dan kegiatan iklan guna suplemen kesehatan dan obat-obatan. Pengawasan ini eksklusif ditujukan guna iklan dan promosi kedua produk yang bersumber dari bahan-bahan alami atau tradisional.
Dalam Peraturan Kepala BPOM tentang Pengawasan Promosi dan Iklan Obat Bahan Alami dan Suplemen Kesehatan dilafalkan bahwa pihak yang hendak mendapatkan izin edar pun harus mengantongi izin iklan dari BPOM. Demi dapat mendapatkan izin edar yang sah dari BPOM, pemohon mesti melalui sekian banyak prosedur dan langkah yang sudah ditentukan.
Meskipun secara administrasi segala persyaratan dan dokumen yang diperlukan telah lengkap, keabsahannya masih tetap dievaluasi oleh Tim Penilai Iklan Obat Bahan Alami dan Suplemen Kesehatan. Hal ini diakibatkan karena di samping persyaratan dokumen dan administrasi, BPOM pun memberlakukan persyaratan penyajian iklan yang lebih ketat. Dengan demikian, penyajian informasi dalam iklan itu nanti tidak melenceng dan tepat sasaran.

 

Persyaratan Mendapatkan Izin Edar
Anda mesti melewati serangkaian proses supaya bisa menemukan surat izin edar guna bahan pangan, kosmetik, obat, dan jamu-jamuan. Selain memenuhi dan melampirkan eksemplar isian permohonan, persyaratan beda yang mesti kita siapkan sebelum mengerjakan mengunjungi kantor BPOM ialah sebagai berikut.

 

Permohonan Izin Edar Produk Dalam Negeri
• Salinan surat izin industri yang berasal dari Departemen Perindustrian dan Perdagangan.
• Sertifikat Merek Dagang.
• Hasil pribumi analisa laboratorium yang bersangkutan dengan produk yang bakal dimintai surat izinnya.
• Surat pengecekan dari BPOM setempat bilamana sudah pernah dilaksanakan pemeriksaan sebelumnya.
• Sertifikasi SNI guna produk berupa air minum dalam kemasan, tepung terigu, garam, dan produk beda yang cocok dengan aturan yang berlaku.
• Salinan izin buatan farmasi dan sertifikat Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOB) guna produk berupa suplemen makanan.
• Dokumen mengandung spesifikasi dan lokasi pembelian bahan baku guna produksi.

Permohonan Izin Edar Produk Luar Negeri
• Surat pribumi dan duplikat penunjukan pabrik asal penciptaan bahan pangan, makanan, minuman, kosmetik, dan obat tradisional.
• Surat pribumi hasil pengecekan laboratorium berhubungan dengan nilai gizi, uji kimia, cemaran logam dan mikrobiologi pada produk.
• Desain label yang bakal diedarkan sekaligus misal produknya.
• Surat pribumi dan duplikat Sertifikat Kesehatan atau Sertifikat Bebas Jual dari lembaga yang berwenang di negara asal penciptaan produk.
• Salinan dan pribumi Surat Penunjukan Importir atau penyalur dari pabrik asal yang telah diabsahkan pihak yang ditunjuk.
• Komposisi pribumi dan duplikat legalisir dari pabrik asal.
• Standar bobot yang dipakai secara sah pada pabrik asal.

 

Perbedaan Izin Edar BPOM dan DINKES

Setiap produk pangan dan obat yang beredar di Indonesia mesti mempunyai izin edar yang sah dari BPOM dan Dinas Kesehatan (Dinkes). Meskipun demikian, dua lembaga ini menerbitkan surat izin edar yang berbeda.
Dari segi kewenangan, BPOM jelas memiliki status yang lebih tinggi dikomparasikan dengan Dinkes, sebab berperan sebagai satu-satunya lembaga yang memantau peredaran bahan pangan, obat, kosmetik, sampai jamu.
Sementara itu, izin edar yang dikeluarkan oleh Dinas Kesehatan melulu berfokus pada bahan pangan dan alat-alat kesehatan, bukan tergolong obat, kosmetik, dan jamu. Ada juga perbedaan beda dari kedua lembaga ini berhubungan izin edar ialah sebagai berikut.
• Kode perizinan yang tertulis pada sertifikat.
BPOM mempunyai kode edar POM yang dibuntuti oleh sederetan angka dan huruf. Sementara itu, kode yang dipakai oleh Dinkes untuk mengabsahkan izin edar terdapat tiga, yakni SP, MD, dan ML. Nomor SP atau Surat Penyuluhan diserahkan untuk industri lokasi tinggal tangga, dibuntuti dengan nomor P-IRT. Kode ML diperuntukkan untuk produsen empunya bahan pangan impor, dan MD guna bahan pangan lokal.

• Jangka masa-masa berlakunya sertifikat atau izin edar.
Surat izin edar dari BPOM mempunyai jangka masa-masa pemakaian sampai lima tahun dan dapat dilaksanakan perpanjangan. Sementara itu, lama masa-masa berlakunya P-IRT dari Dinkes guna bahan pangan dengan daya tahan lebih dari tujuh hari ialah selama lima tahun. Sedangkan guna bahan pangan dengan masa simpan tidak cukup dari tujuh hari mempunyai surat izin edar P-IRT dengan jangka masa-masa tiga tahun.
Perlu diketahui bahwa nomor yang tertulis pada surat izin edar baik dari BPOM maupun Dinkes tetap bakal berlaku sekitar tidak ada evolusi pada hal-hal yang sehubungan dengan proses produksi, lokasi, dan pemakaian bahan dari pemohon. Di samping itu, BPOM dan Dinkes pun secara rutin akan mengerjakan pemeriksaan guna meyakinkan bahwa seluruh produk pangan yang beredar telah cocok dengan standar yang diberlakukan oleh negara.
Demikianlah informasi tentang peraturan izin edar segala format bahan pangan, makanan, dan minuman di Indonesia yang butuh Anda ketahui. Agar usaha dagang bahan pangan yang sedang kita jalankan dapat berjalan dengan lancar, usahakan segera daftarkan produk makanan atau minuman yang diciptakan ke BPOM dan Dinas Kesehatan. Cermati dengan teliti segala persyaratan yang mesti diisi berikut formalitas dan proses yang mesti diikuti.
Jika Anda kendala atau tidak memiliki tidak sedikit waktu untuk mengerjakan pengurusan ke lembaga yang berwenang, pakai jasa konsultan hukum untuk menolong menguruskannya guna Anda. Serahkan seluruh dokumen dan berkas yang diperlukan pada konsultan dan percayakan prosesnya pada mereka. biasanya, memakai jasa konsultan hukum dalam mengurus izin edar atau perizinan lainnya dapat lebih mudah, meskipun Anda diwajibkan mengeluarkan ongkos ekstra.

 

 

 

 

 

PENGERTIAN SAFETY DAN ALAT PERLENGKAPAN SAFETY DI PABRIK INDUSTRI

 

jual rompi safety murahArti kata safety secara singkat ialah selamat atau keselamatan.
Adapun makna safety secara luas ialah Suatu kondisi suasana yang selamat,sehat,aman dan nyaman di dalam sebuah kegiatan sehari – hari yang di kerjakan oleh masing-masing manusia.

Setiap insan pasti dan tidak dapat di pungkiri bahwa mengharapkan kehadiran safety pada dirinya dalam masing-masing melakukan kegiatan sehari – hari,Baik tersebut beraktifitas di dalam ruangan maupun di luar ruangan.Karena dengan situasi yang safety akan dapat memastikan seseorang itu untuk tidak jarang kali melangsungkan kegiatan sehari – hari dengan berkala.

Untuk menjangkau safety dalam mengerjakan suatu perbuatan, kegiatan atau kegiatan maka masing-masing orang selalu mengawal dirinya dari kemalangan atau potensi bahaya dengan memakai atau menggunakan alat perangkat safety.

Sedangkan alat perangkat safety ialah Sarana atau perangkat yang di pakai oleh seseorang sebagai proteksi diri atau pelindung diri dari sebuah bahaya kemalangan atau potensi bahaya di ketika melakukan kegiatan atau pekerjaan.

Adapun faedah dari perangkat safety ialah sebagai inilah :
• Melindungi anggota badan secara langsung dari adanya potensi bahaya.
• Memberi rasa aman dan nyaman serta percaya diri untuk pemakai di ketika melakukan kegiatan pekerjaan.
• Mengurangi rasa sakit atau luka yang berlebihan di ketika kita merasakan adanya kejadian suatu kemalangan yang tidak dapat di hindari.
Sedangkan Jenis – jenis perangkat atau perangkat safety yang umum di pakai oleh pekerja di pabrik industri ialah sebagai berikut:
• Sepatu : Berfungsi sebagai pelindung kaki unsur bawah,Biasanya sepatu ini di lengkapi dengan besi unsur ujung sepatu dengan tujuan menyelamatkan jari – jari kaki pada ketika ada potensi bahaya tertimpa benda berat,melindungi dari potensi bahaya terjepit benda,melindungi dari potensi bahaya tersandung benda, dll.
• Helm atau Topi : Berfungsi sebagai pelindung kepala untuk mengayomi kepala dari potensi bahaya terjatuh benda – benda ,melindungi dari potensi bahaya terbentur ,melindungi dari potensi bahaya terantuk benda keras, dll.
• Sarung tangan : Berfungsi sebagai pelindung tangan untuk mengayomi tangan dan jari – jari tangan dari potensi tangan terjepit,melindungi dari panas,melindungi dari potensi tangan lecet,melindungi dari potensi bahaya terpukul, dll.
• Seragam kerja : Berfungsi sebagai pelindung badan, untuk mengayomi anggota badan dari potensi bahaya debu,melindungi dari potensi bahaya panas dan dingin,Melindungi dari potensi bahaya kotoran baik kotoran cair,padat maupun powder,Melindungi dari potensi bahaya iritasi, dll.
• Masker : Berfungsi sebagai pelindung drainase pernafasan ,Untuk mengayomi alat organ pernafasan dari masuknya debu dan bau tajam dari bahan – bahan material buatan dari lokasi kerja melewati hidung atau drainase pernafasan.
Walaupun anda sudah memakai atau menggunakan alat safety bukan berarti anda terjamin terhindar dari yang namanya kemalangan kerja,Karena ketika kita melakukan kegiatan atau kegiatan yang mempunyai resiko selalu terdapat potensi bahaya di dekat kita yang dapat menyebabkan atau mengundang terjadinya kemalangan kerja di lokasi kerja.

Potensi bahaya ialah suatu celah atau kesempatan bahaya yang dapat muncul atau timbul secara tak tersangka kapanpun dan di manapun yang dapat menyebabkan terjadinya sebuah kemalangan kerja di lokasi kerja.

Sedangkan potensi bahaya itu dapat timbul sebab 2 factor inilah ini ;

1) Kondisi yang tidak aman di area lokasi kerja ( Unsafe Condition )
Maksud dari situasi yang tidak aman di area lokasi kerja atau Unsafe Condition ialah suatu situasi atau suasana yang terjadi dan terdapat di lokasi kerja atau lokasi beraktifitas yang berpotensi memunculkan bahaya atau kemalangan kerja sehingga mengakibatkan terlukanya pekerja atau seseorang yang berada di lokasi kerja tersebut.

Selain situasi atau suasana area lokasi bekerja ternyata lokasi atau lokasi kerja tersebut sendiri pun mempunyai potensi munculnya sebuah kemalangan kerja untuk semua pekerja atau orang yang berada di dekat area kerja tersebut.

Pengertian mengenai area kerja ialah Tempat seseorang bekerja atau mengerjakan suatu kegiatan atau mengerjakan suatu pekerjaan.
Adapun suatu situasi atau suasana area kerja yang dapat menimbulkan potensi bahaya di lokasi kerja ialah sebagai berikut:

a) Tidak rapihnya dalam pengaturan barang – barang atau perangkat – perangkat kerja di lokasi kerja.
Hal ini dapat menyebabkan adanya potensi bahaya laksana anggota badan terbentur benda,anggota badan tergores benda, dll.

Adapun teknik penangannya ialah sebagai inilah :
• Tata dengan rapih situasi barang – barang cocok ukuran besar kecilnya barang.
• Kelompokkan ukuran barang cocok ukuran panjang dan pendeknya.
• Kelompokkan barang – barang yang sejenis baik secara faedah maupun bentuk
• Tidak membubuhkan barang – barang laksana part mesin,tool kerja atau barang – barang beda di lokasi yang mengganggu kegiatan kerja.
b) Tidak bersihnya lokasi kerja yang di sebabkan sebab banyaknya barang yang tidak terpakai.
Hal ini dapat menyebabkan adanya potensi bahaya laksana anggota badan tersandung benda,anggota badan tertimpa benda,adanya timbul api sehingga menyebabkan terjadinya bahaya kebakaran, dll.

Adapun teknik penanganannya ialah sebagai inilah :
• Singkirkan barang – barang yang tidak terpakai dari lokasi kerja.
• Simpan pulang barang – barang bekas pemakaian di lokasi penyimpanan barang.
• Tidak membubuhkan barang – barang asing di lokasi area kerja.
• Tidak melemparkan sampah atau barang – barang sembarangan di lokasi kerja.
c) Adanya barang – barang perangkat kerja yang tidak cocok dalam jumlah penyimpanannya atau tidak cocok tempatnya dalam penyimpanan.
Hal ini dapat menyebabkan adanya potensi bahaya anggota badan terjepit benda,anggota badan tertimpa benda,potensi bahaya timbul api sehingga menyebabkan adanya kebakaran,dll.

Adapun teknik penangananny ialah sebagai inilah :
• Tidak membubuhkan barang atau perangkat kerja yang tidak sesuai kegunaannya di lokasi atau lokasi kerja.
• Pastikan andai menaruh barang di lokasi kerja mesti tepat barang,tepat lokasi dan tepat jumlah cocok kebutuhan.
d) Adanya part – part mesin yang kondisinya telah tidak pantas pakai atau bobrok di lokasi kerja.
Hal ini dapat menyebabkan potensi bahaya menimpa pekerja,tersandung oleh pekerja,membentur pekerja, dll.

Adapun teknik penanganannya ialah sebagai inilah :
• Segera kerjakan perbaikan terhadap part – part mesin yang rusak.
• Segera kerjakan penggantian terhadap part – part mesin yang telah tidak layak.
e) Kondisi Area kerja yang licin sebab banyaknya minyak,oli,grease,air dan jenis cairan lainnya.
Area kerja ini dapat berpotensi bahaya laksana orang terpeleset,orang jatuh terkilir,bahaya timbul api sehingga memunculkan adanya kebakaran, dll.

Adapun penanganannya ialah sebagai inilah :
• Bersihkan terlebih dahulu lokasi kerja yang licin sebelum mengerjakan pekerjaan utama,agar pada ketika kita bekerja menjadi aman dan nyaman.
• Proteksi bahan – bahan yang gampang terbakar laksana oli dan grease di lokasi kerja atau singkirkan bahan – bahan itu ke lokasi yang lebih aman.
• Setelah lokasi kerja bersih dari oli ,grease dan sejenis minyak yang lain,maka tahapan berikutnya ialah pasang blue sheet atau terpal plastik atau semacamnya untuk di pakai sebagai alas kerja,benda kerja dan tool kerja.
f) Kondisi Area kerja di lokasi ketinggian.
Area kerja ini dapat menyebabkan adanya potensi bahaya orang atau pekerja terjatuh dari ketinggian,bahaya anggota badan terperosok, dll.

Adapun penanganannya ialah sebagai inilah :

• Gunakan perangkat safety belt atau body hardness yang di cantolkan pada guide atau tiang semacamnya untuk mengayomi anggota tubuh jatuh dari ketinggian.
• Pasang guiden di dekat area kerja di elevasi untuk menghindari pekerja dari bahaya terperosok.
g) Kondisi Area kerja yang sempit dan tertutup.
Area kerja ini dapat menyebabkan adanya potensi bahaya laksana adanya pekerja yang kelemahan oksigen atau potensi bahaya sesak pernafasan,adanya potensi bahaya terjepit,adanya potensi bahaya dehidrasi, dll.

Adapun penanganannya ialah sebagai inilah ;

• Pastikan tidak sendirian di ketika bekerja di lokasi sempit,Pastikan ada teman kerja yang stand by di lokasi yang dapat mengawasi kerja pekerja.
• Gunakan perangkat safety yang bersangkutan dengan lokasi kerja sempit dan gelap laksana lampu senter,tali tambang,tabung oksigen,dll.
h) Kondisi Area kerja yang berdebu dan berbau tajam.
Area Kerja ini dapat menyebabkan adanya potensi bahaya seperti mencium debu dan bau sampai-sampai merusak drainase pernafasan,berpotensi bahaya terhadap iritasi mata sampai-sampai merusak indra penglihatan, dll.

Adapun teknik penanganannya ialah sebagai inilah :

• Gunakan perangkat safety berupa masker guna menghambat adanya debu dan bau guna tidak masuk ke drainase pernafasan.
• Gunakan perangkat safety berupa kaca mata untuk mengayomi penglihatan dari debu atau asap.
i) Kondisi Area kerja yang berisi zat Radiasi.
Area Kerja ini dapat menyebabkan adanya potensi bahaya anggota badan terkena penyampaian radiasi sehingga dapat merusak anggota tubuh laksana kemandulan,kerontokan rambut,iritasi kulit,kerusakan penglihatan, dll.

Adapun teknik penanganannya ialah sebagai inilah :

• Pastikan Bekerja di luar radius aman dari titik penyampaian radiasi.
• Memakai perangkat rekam penyampaian radiasi untuk operator atau pekerja yang masing-masing hari bekerja di lokasi radiasi.
• Mengikuti On the Job Training khusus mengenai bekerja di lokasi radiasi.
j) Kondisi Area kerja yang menyimpan bahan – bahan gampang terbakar.
Area Kerja ini dapat menyebabkan adanya potensi bahaya adanya kebakaran sampai-sampai timbul api,bahaya dapat memunculkan effect iritasi kulit pada pekerja,berbahaya terhadap system reproduksi pekerja ,berbahaya terhadap lingkungan sekitar laksana adanya perusakan lingkungan, dll.

Adapun teknik penanganannya ialah sebagai inilah :

• Gunakan perangkat safety berupa kaca mata,masker dan sarung tangan khusus.
• Jangan mengobarkan api di lokasi penyimpanan bahan – bahan gampang terbakar .
• Jika terjadi bocoran bahan gampang terbakar,maka segera bersihkan bekas bocoran itu sebelum mengotori lingkungan atau menimbulkan kemalangan kerja lain.
k) Kondisi Area kerja yang menjadi ruangan eksklusif sebagai pembangkit tenaga listrik,
Area kerja ini dapat menyebabkan potensi bahaya tersetrum.

Adapun teknik penanganannya ialah sebagai inilah ;

• Jangan menyentuh part – part listrik bertegangan tinggi atau power listrik lainnya.
• Gunakan perangkat safety yang standart laksana sepatu dan sarung tangan.
2) Tidak amannya dalam beraksi oleh seorang pekerja pada ketika beraktifitas ( Unsafe Action )
Maksud dari tidak aman dalam beraksi pada ketika beraktifitas atau Unsafe Action ialah suatu Tindakan atau tindakan yang di kerjakan oleh seorang pekerja yang tidak aman atau mengundang potensi bahaya untuk situasi pribadi pekerja itu yang dapat mengakibatakan terjadinya kemalangan kerja.

Tindakan atau tindakan yang tidak aman pada ketika bekerja tersebut dapat mengakibatkan adanya potensi bahaya guna diri individu pekerja maupun terhadap orang beda yang sedang di sekitarnya.

Adapun misal tindakan atau tindakan pekerja yang tidak aman di lokasi kerja ialah sebagai berikut

A) Pekerja tidak memakai alat perangkat pelindung diri saat mengerjakan pekerjaan.
Hal ini dapat berpotensi mengakibatkan adanya bahaya cocok jenis pekerjaannya.Karena masing-masing jenis pekerjaan bertolak belakang pula jenis perangkat pelindung dirinya.Hal ini dapat menimbulkan potensi bahaya terjatuh dari ketinggian,terkena cipratan api,terpukul,terjepit,dll.

Alat Pelindung Diri atau APD ialah alat perangkat kerja yang di pakai untuk mengayomi anggota badan dari potensi bahaya yang dimunculkan dari kegiatan yang anda kerjakan.

Adapun teknik penanganannya ialah sebagai inilah :

• Selalu pakai alat pelindung diri (APD ) yang cocok dengan job kegiatan di setiap mengerjakan pekerjaan baik tersebut di dalam ruangan maupun di luar ruangan.
• Gunakan perangkat pelindung diri dengan baik dan benar sesuai faedah masing – masing.
B) Pekerja tidak bekerja cocok basic rule atau aturan dasar dalam bekerja cocok jenis pekerjaannya.
Setiap jenis kegiatan yang bertolak belakang maka bertolak belakang pula basic rule atau aturan dasarnya dalam bekerja sampai-sampai potensi bahaya yang di timbulkannya bertolak belakang pula.Hal ini dapat menimbulkan potensi bahaya terjepit,tergulung,tersetrum,terbentur, dll.

Basic rule ialah aturan dasar kerja yang menata tentang teknik – teknik bekerja atau urutan – urutan sistem kerja dalam mengerjakan suatu pekerjaan.

Adapun teknik penanganannya ialah sebagai inilah ;

• Selalu bekerja cocok standart aturan dasar atau urutan urutan kerja dalam mengerjakan pekerjaan.
• Tidak menciptakan aturan dasar sendiri di luar standart aturan dasar kerja yang sudah diputuskan di masing-masing job pekerjaan
C) Pekerja tidak menghiraukan situasi area kerja yang tidak mencukupi untuk bekerja,
Area kerja dengan situasi kerja pada ketika bekerja ialah berbeda – lain sehingga mesti membutuhkan perlakuan yang bertolak belakang pula.Hal ini bisa berdampak adanya potensi bahaya terpeleset,terbentur,tertimpa,terjatuh, dll

Kondisi lokasi kerja yang tidak memadai ialah kondisi lokasi kerja yang tidak nyaman dan tidak aman untuk mengerjakan suatu pekerjaan.

Adapun teknik penanganannya ialah sebagai inilah :

• Pastikan lokasi kerja dalam situasi yang aman dan nyaman sebelum kita mengerjakan pekerjaan,Baik dari sisi bersih dan rapi.
• Proteksi atau singkirkan bahan yang gampang terbakar sebelum mengerjakan pekerjaan yang membutuhkan api laksana mengelas dan cutting.
• Lindungi material produk dari kehancuran saat kita mengerjakan pekerjaan.
D) Pekerja tidak memasang Tag Danger atau tag identitas mesin stop di panel operation mesin pada saat mengerjakan perbaikan di mesin.
Hal ini dapat berpotensi adanya bahaya orang lain dapat mengoperasikan mesin tanpa sepengetahuan pekerja yang sedang mengerjakan pekerjaan sampai-sampai pekerja dapat terkena kemalangan kerja,seperti terjepit,tergulung, dll.

Adapun teknik penanganannya ialah sebagai inilah :

• Sebelum mengerjakan pekerjaan ,pastikan situasi mesin telah stop atau off.
• Pasang tag dangerouse atau tag identitas di panel utama operation mesin yang berarti bahwa situasi mesin di larang di operasikan oleh siapapun.
• Informasikan ke seluruh member bahwa situasi mesin stop sebab ada perbaikan.
E) Pekerja tidak memakai alat tolong kerja dengan semestinya atau tidak memakai alat tolong kerja sesuai faedah dari alat tolong tersebut.
Hal ini dapat berpotensi adanya bahaya pekerja terciderai oleh alat tolong kerja atau terciderai oleh obyek dari pekerjaan.Misal pekerja tertimpa besi yang bakal di installasi,karena pekerja tidak memakai alat tolong chain block maka pekerja dapat tertimpa besi tersebut.

Pekerja memakai tali dengan ukuran kecil,karena beban benda terlampau berat maka tali dapat putus sampai-sampai beban dapat menimpa pekerja.dll.

Adapun teknik penanganannya ialah sebagai inilah ;

• Gunakan alat tolong kerja dengan baik dan benar cocok fungsinya.
• Pahami teknik kerja alat tolong kerja bilamana belum mengerti teknik kerja dari alat tolong tersebut.
• Tidak memakai alat tolong yang seandainya membahayakan kegiatan dan pekerja tersebut sendiri.
F) Pekerja tidak mengerjakan yubisasikosyo atau meyakinkan dengan jari menunjuk terhadap obyek yang bakal dikerjakan,bahwa obyek yang akan digarap dalam situasi safety atau tidak untuk mengerjakan pekerjaan baik dari sisi area aman maupun dari sisi benda yang akan digarap juga aman.
Hal ini dapat menyebabkan adanya potensi bahaya sebab factor kelengahan dari seorang pekerja.

Adapun teknik penanganannya ialah sebagai inilah ;

• Selalu pastikan dengan menunjuk urusan hal yang urgen sebelum dan sesudah mengerjakan pekerjaan,Hal ini bertujuan guna meyakinkan bahwa pekerjaan anda tidak ada yang tidak cukup atau terdapat yang salah.
• Check pulang hasil kegiatan setelah mengerjakan pekerjaan apakah cocok dengan rencana atau tidak.
G) Pekerja tidak cocok standart pemakaian dalam menggunakan seragam kerja atau perangkat kerja.
Hal ini dapat menyebabkan adanya potensi bahaya laksana baju seragam yang tidak apik atau tidak di masukan bakal berpotensi baju tergulung putaran mesin,Tali helm yang tidak di ikatkan bakal berpotensi bahaya helm gampang terlepas sampai-sampai kepala terbentur benda keras.

Saat menggunakan sepatu kerja tidak benar sampai-sampai berpotensi sepatu gampang lepas dan pekerja bissa terpeleset,Pekerja tidak menggunakan kaos kaki sampai-sampai berpotensi kaki tak terlindungi dan dapat terkena cipratan api las atau cairan,

Pekerja tidak memakai sabuk ikat pinggang sampai-sampai berpotensi bahaya celana kerja dapat lepas dan mencantol benda berputar.

Pekerja saat menggunakan baju lengan panjang dan ujung lengan tidak di kancingkan sampai-sampai berpotensi bahaya ujung kain kemeja dapat tergulung oleh benda berputar.

Adapun teknik penanganannya ialah sebagai inilah ;

• Gunakan Seragam kerja cocok standart pemakaiannya dan fungsinya.
H) Pekerja memiliki rambut panjang,
Hal ini dapat menyebabkan adanya potensi bahaya dan memunculkan adanya kemalangan kerja sebab rambut panjang dapat tertarik atau tergulung oleh benda berputar laksana conveyor.

Adapun teknik penanganannya ialah sebagai inilah :

• Pastikan kondisikan rambut dalam situasi tidak panjang atau tidak gondrong.
• Pastikan selalu mengayomi kepala dengan perangkat safety laksana helmet atau topi pada ketika bekerja.
• Pastikan hati hati dan waspada pada ketika bekerja di lokasi yang berputar.
I) Pekerja memakai assesoris pribadi.
Assesoris individu seperti kalung ,gelang, cincin, dll dapat menimbulkan potensi bahaya sehingga dapat mengakibatkan kemalangan kerja.
Assesoris tersebut dapat menyangkut di benda – benda mesin sampai-sampai bisa berdampak adanya kemalangan kerja untuk pemakainya.

Pastikan pada saat mengerjakan pekerjaan tidak memakai assesoris individu di samping seragam kerja yang di standartkan oleh perusahaan.

Demikian ulasan mengenai safety beserta pengaplikasian dari perangkat – perangkat perlengakapan safety guna menunjang kegiatan yang aman nyaman dan terhindar dari kemalangan kerja.